Makalah Sejarah Perang Salib

Makalah Sejarah Perang Salib - Hallo sahabat Cyberlaw Indonesia, Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul Makalah Sejarah Perang Salib, kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan Artikel Pengetahuan, Artikel Sejarah, yang kami tulis ini dapat anda pahami. baiklah, selamat membaca.

Judul : Makalah Sejarah Perang Salib
link : Makalah Sejarah Perang Salib

Baca juga


Makalah Sejarah Perang Salib

Makalah Sejarah Perang Salib ~ Apakah sobat sudah kenal dengan Perang Salib?? sebagai orang yang suka dengan sejarah pasti sudah mengenalnya, namun jika belum mengenal alangkah baiknya untuk bisa membaca sampai selesai tentang Sejarah Perang Salib.

Sejarah Perang Salib

Sejarah Perang Salib

A. Pendahuluan


Perang keagamaan (Perang Salib) yang terjadi hampir dua abad antara ummat Kristen di Eropa dengan ummat Islam di Asia menjadi sebuah sejarah panjang yang memberikan kontribusi berharga bagi kemajuan bangsa Eropa sekaligus sebuah peristiwa yang sangat memprihatinkan dan banyak memakan korban. Selain itu sejarah perang Salib akan menjadi pelajaran yang berharga bagi ummat manusia baik Barat maupun Timur.

Beberapa ulama enggan menyebut perang ini sebagai perang salib. Mereka punya istilah sendiri yaitu perang Sabil yang berasal dari kata perang Sabilillah atau Jihad Sabilillah (Perang atau Jihad di jalan Allah). Definisi umat Islam tentu saja adalah Perang di Jalan Allah untuk mempertahankan tanah suci Palestina dari serbuan kafir harbi Kristian.

Sedangkan perang Salib versi Katholik adalah ekspedisi ketenteraan yang dilakukan untuk merebut kembali tanah suci Palestina dari tangan penganut Mohammedanism, demikian definisi yang ada di beberapa kepustakaan Katholik .

Disebut dengan perang Salib karena ekspedisi militer Kristen mempergunakan salib sebagai pemersatu untuk menunjukkan bahwa peperangan yang mereka lakukan adalah perang suci dan bertujuan untuk membebaskan kota suci Baitul Maqdis dari tangan orang-orang Islam.

Sejarah manusia menunjukkan betapa agama kerapkali dijadikan alat untuk kepentingan tertentu. Ini juga halnya yang terjadi pada perang Salib (Crusade). [ Istilah Crusade yang berarti Perang Salib ini berasal dari bahasa Prancis yakni “Croix“ yang bermakna salib atau “Cross“. Disebut perang ini dengan Perang Salib karena perang ini dipelopori oleh Paus Paulus Urbanus II dalam menghimpun Perang Salib dan berjanji memberikan ampunan bagi mereka (pasukan yang terlibat) sampai pada target akhir merebuit Yerussalem dari tangan kaum muslimin. ] Karena perang ini merupakan reaksi dunia Eropa terhadap dunia Islam di Asia. Bagi orang Eropa sendiri perang ini dianggap sebagai kebangkitan agama, bahkan merupakan gerakan kerohanian yang tinggi yang mana dunia Kristen Barat menyadari dan menemukan identitas baru.

Kebencian Kristen terhadap ummat Islam dimulai sejak disebarkannya Islam ke daerah-daerah kekuasaan Bizantium, terutama pada abad ke-8 Masehi, yakni ketika ummat Islam melakukan ekspansi ke wilayah-wilayah yang dikuasai oleh Kristen di Eropa. Mereka melihat bahwa kekuasaan Islam dapat mengancam bahkan menghancurkan Konstantinopel sebagai ibukota kerajaan Bizantium. Dendam dan kebencian yang disimpan ummat Kristen mencetuskan perang Salib yang tujuannya adalah merebut kembali wilayah-wilayah yang sudah dikuasai ummat Islam.

Dalam pengkajian makalah ini penulis bertujuan untuk menjadikan fenomena sejarah masa lalu menjadi iktibar penting dengan menganalisis keberadaan perang Salib itu sendiri, agar kiranya tidak terulang di masa yang akan datang. Karena itu dalam makalah ini akan dikaji latar belakang perang Salib serta dampaknya bagi perkembangan sains di negara Barat.

B. Latar Belakang Perang Salib


Setelah Roma mengusir Yahudi dari Palestina, Yerusalem dan sekitarnya menjadi lenyap. Akan tetapi, Yerusalem kembali menjadi pusat perhatian setelah Pemerintah Romawi Constantine memeluk agama Nasrani (312). Orang-orang Roma Kristen membangun gereja-gereja di Yerusalem, dan menjadikannya sebagai sebuah kota Nasrani. Palestina tetap menjadi daerah Romawi (Bizantium) hingga abad ketujuh, ketika negeri ini menjadi bagian Kerajaan Persia selama masa yang singkat. Akhirnya, Bizantium kembali menguasainya.

Palestina ditaklukkan oleh Umar Bin Khattab, khalifah kedua. Ketika memasuki Yerusalem, toleransi, kebijaksanaan, dan kebaikan yang ditunjukkannya kepada penduduk daerah ini, tanpa membeda-bedakan agama mereka menandai awal dari sebuah zaman baru yang indah. Seorang pengamat agama terkemuka dari Inggris Karen Armstrong menggambarkan penaklukan Yerusalem oleh Umar dalam hal ini, dalam bukunya Holy War :

‘Khalifah Umar memasuki Yerusalem dengan mengendarai seekor unta putih, dikawal oleh pemuka kota tersebut, Uskup Yunani Sofronius. Sang Khalifah minta agar ia dibawa segera ke Haram asy-Syarif, dan di sana ia berlutut berdoa di tempat temannya Muhammad melakukan perjalanan malamnya. Sang uskup melihatnya dengan ketakutan: ini, ia pikir, pastilah akan menjadi penaklukan penuh kengerian yang pernah diramalkan oleh Nabi Daniel akan memasuki rumah ibadat tersebut; Ia pastilah sang Anti Kristus yang akan menandai Hari Kiamat. Kemudian Umar minta melihat tempat-tempat suci Nasrani, dan ketika ia berada di Gereja Holy Sepulchre, waktu sholat umat Islam pun tiba. Dengan sopan sang uskup menyilakannya sholat di tempat ia berada, tapi Umar dengan sopan pula menolak. Jika ia berdoa dalam gereja, jelasnya, umat Islam akan mengenang kejadian ini dengan mendirikan sebuah mesjid di sana, dan ini berarti mereka akan memusnahkan Holy Sepulchre. Justru Umar pergi sholat di tempat yang sedikit jauh dari gereja tersebut, dan cukup tepat (perkiraannya), di tempat yang langsung berhadapan dengan Holy Sepulchre masih ada sebuah mesjid kecil yang dipersembahkan untuk Khalifah Umar‘.

Sejak berdirinya kekuasaan Islam, orang-orang Kristen diberi kebebasan beragama dan kekuasaan dalam berbagai jabatan dalam pemerintahan. Ketika Yerussalem dan Syiria dibawah kekuasaan Dinasti Fatimiyah dari Mesir. Penguasa Mesir mendorong perniagaan dan perdagangan Kristen. Namun karena berbagai faktor, pada akhirnya konflik antara umat Islam dan Kristen tetap muncul yang berujung pada perang sangat besar yaitu perang Salib

Menurut Amir K. Ali ada beberapa faktor penyebab terjadinya perang Salib:

Perang Salib itu terjadi karena adanya konflik lama antara Timur dengan Barat, dalam hal ini antara orang Islam dengan orang-orang Kristen untuk saling menguasai. Munculnya Islam yang cepat menimbulkan suatu goncangan bagi seluruh Eropa Kristen sehingga pada abad ke-II pasukan orang Kristen Barat diarahkan untuk melawan Islam.

Pada masa itu Eropa Kristen di Yerussalem semakin bergairah pada abad II dibandingkan dengan waktu-waktu sebelumnya. Karena Palestina dibawah kekuasaan Turki.

Pada masa itu, Eropa Kristen ditandai oleh kekacauan feodalisme. Raja dan Pengeran terlibat perang satu sama lain.

Pendapat lain menyatakan bahwa faktor penyebab terjadinya Perang Salib adalah karena faktor agama, hal ini dapat dilihat dari tanda salib yang dipergunakan para tentara Kristen. Selain itu terdapat motif lain seperti perdagangan, pengembaraan atau keinginan membebaskan diri dari kesulitan hidup di Eropa.

Ummat Islam sudah memandang lebih baik hidup berdampingan dengan negara dan agama lain dengan tidak memaksa atau menguasai / menaklukkan negara lain. Tetapi tetap saja tokoh Kristen tetap menganggap Islam sebagai ideologi yang mengancam kejayaan Kristen di masa depan. Jihad tetap dianggap sesosok hantu yang menakutkan bagi ummat Kristen.

Sejumlah ekspedisi militer yang dilancarkan oleh pihak Kristen terhadap kekuatan muslim pada periode 1096 – 2073 M dikenal sebagai perang Salib.

Adapun penyebab terjadinya Perang Salib secara tidak langsung dilatar belakangi oleh beberapa hal, antara lain:

Faktor Agama

Sejak Dinasti Saljuk merebut Baitul Makdis dari tangan Dinasti Fatimiyah pada tahun 1070. Pihak Kristen merasa tidak bebas lagi menunaikan ibadah kesana. Hal ini disebabkan karena para penguasa sejak menetapkan sejumlah peraturan-peraturan yang dianggap mempersulit mereka yang pulang berziarah dan sering mengeluh karena mendapat perlakuan yang fanatik. Ummat Kristen merasa perlakuan penguasa Islam telah menghalangi ummat Kristen yang ingin beribadat he Baitul Makdis. Ada lagi pendapat yang mengatakan sentimen keagamaan ini muncul ketika khalifah Bani Fatimiah al-Hakim bin Amr-Allah menghancurkan Gereja Makam Suci (Church of The Holy Sepulchre), walaupun setelah itu penerusnya memperbolehkan Gereja itu dibangun lagi namun para peziarah Kristian yang datang lalu pulang dari Yerussalem membawa isu kekejaman umat Islam terhadap umat Nasrani baik yang menetap disana, maupun para peziarah.

Faktor Sosial Ekonomi

Pedagang-pedagang besar yang berada di pantai Timur Laut Tengah terutama yang berada di Kota Venezia Genoa, dan Pisa berambisi untuk menguasai sejumlah kota-kota dagang di sepanjang Pantai Timur dan Selatan Laut Tengah untuk memperluas jaringan dagangan mereka.

Sedangkan Faktor yang melatar belakangi perang ini secara langsung disebabkan permohonan Kaisar Alexius I kepada Paus Urbanus II untuk menolong Kekaisaran Byzantium menahan laju invasi tentara Muslim ke dalam wilayah kekaisaran tersebut. Pada tahun 1071, di Pertempuran Manzikert, Kekaisaran Byzantium telah dikalahkan oleh pasukan Muslim Seljuk dan kekalahan ini berujung kepada dikuasainya hampir seluruh wilayah Asia Kecil (Turki modern). Meskipun Pertentangan Timur-Barat sedang berlangsung antara gereja Katolik Barat dengan gereja Orthodox Timur, Alexius I mengharapkan respon yang positif atas permohonannya. Bagaimanapun, respon yang didapat amat besar. Paus menyeru bagi kekuatan invasi yang besar bukan saja untuk mempertahankan Kekaisaran Byzantium, akan tetapi untuk merebut kembali Yerusalem.

C. Proses Berlangsungnya Perang Salib


Sebagaimana telah diungkapkan pada pendahuluan bahwa meletusnya perang Salib memakan waktu yang lama, yakni hampir satu setengah abad. Berikut ini akan diuraikan bagaimana terjadinya Perang salib dari berbagai periode:

Perang Salib yang Pertama (1096 – 1144 M)

Perang Salib ini semula digerakkan oleh seorang Pendeta Prancis yang bernama Peter dan kemudian di back up oleh Paus di Patikan, Raja Kristen di Eropa dan oleh Kepala Kristen di Konstantinopel.

Paus Urbanus II selaku pemegang otoritas tertinggi di Barat mengumpulkan tokoh-tokoh Kristen, para Pendeta, para Kesatria dan orang-orang miskin pada tanggal 26 November 1095 di Clermont (Prancis sebelah Tenggara). Dalam pertemuan tersebut ia berpidato dan menyerukan kepada ummat kristen untuk bersatu padu dalam perang suci melawan ummat Islam. Dalam seruannya ia mengatakan bahwa orang-orang Turki Saljuk adalah kaum Barbar yang baru masuk Islam dan telah menghancurkan Anatolia di Asia Kecil (Turki Modern) serta mencaplok negeri-negeri Bizantium Kristen. Paus berteriak “ras yang terkutuk, ras yang sungguh-sungguh jauh dari Tuhan, orang yang hatinya tidak mendapat petunjuk dan tidak diurus Tuhan, maka membunuh para monster yang tidak bertuhan adalah tindakan suci, maka orang kristen wajib memusnahkan ras keji dari negeri kita“. Para Ksatria Eropa diseru untuk merebut Yerussalem dan membebaskannya dari kaum muslimin karena sangat memalukan bila kristus berada dalam genggaman kaum muslimin (persi Paus). Ia juga berjanji memberikan ampunan atas segala dosa-dosa bagi mereka yang turun ke medan juang. Mungkin inilah pidato paling berpengaruh yang pernah disampaikan oleh Paus sepanjang catatan sejarah. Orang-orang meneriakkan slogan Deus Vult (Tuhan menghendaki) sambil mengacung-acungkan tangan.

Dalam waktu yang sangat singkat seruan Paus berhasil mempengaruhi dan mengumpulkan lebih dari 150.000 pasukan Kristen yang dikumpulkan di Kostantinopel. Pasukan tersebut berasal dari Bangsa Prancis (Franks) dan Bangsa Normandia . Maka meletuslah perang besar yang dikenal dengan Perang salib ( The Crussade).

Ini merupakan serbuan pertama dalam sejarah Perang Salib yang telah memakan waktu dua abad. Serangan ini sebagai konsekuensi dari seruan Paus yang telah menggema dan mengguncang Prancis ketika itu. Pada tanggal 26 November 1905 M. Para Salibis berhasil menguasai Palestina dan mendirikan empat kerajaan besar, yakni di Baitul Makdis, di Antiochia, di Tripolisia dan di Edessa. Pembunuhan massal terjadi sehingga tidak kurang dari 70.000 mayat bergelimpangan disepanjang kota suci ini. Tangan, kepala dan kaki manusia berserakan dimana-mana. Bahkan ketika menaklukkan Tripoli, selain membantai masyarakatnya mereka juga membakar perpustakaan, perguruan tinggi dan sarana industri hingga menjadi abu.[ M. Yahya Harun, Perang Salib dan Pengaruh Islam di Eropa  Perselisihan antara sultan-sultan Saljuk memudahkan pasukan Salib merebut kekuasaan-kekuasaan Islam.

Peristiwa yang sangat memilukan ini menjadi dendam sejarah khususnya bagi kaum muslimin ketika itu, hingga pada tahun 512 H / 1127 M, muncul seorang pahlawan Islam yang tekenal Imaduddin Zanki, seorang Gubernur dari Moshul yang dapat mengalahkan pasukan Salib di Aleppo dan Hummah. Inilah kemenangan pertama bagi kaum muslimin, sehingga tentara Salib harus merasakan bagaimana tidak enaknya kalah sampai memakan banyak korban.

Perang Salib kedua (1144 – 1192)

Setelah terjadinya perang Salib pertama terdapat tiga negara tentara salib yang didirikan di timur: Kerajaan Yerusalem, Kerajaan Antiokhia, dan County Edessa. County Tripoli didirikan pada tahun 1109. Edessa adalah negara yang secara geografis terletak paling utara dari keempat negara ini, dan juga merupakan negara yang paling lemah dan memiliki populasi yang kecil, oleh sebab itu daerah ini sering diserang oleh negara Muslim . Sementara itu, Zengi, Atabeg dari Mosul, merebut Aleppo pada tahun 1128. Aleppo merupakan kunci kekuatan di Suriah. Pada tahun 1144, Zengi mengepung Edessa, yang akhirnya jatuh ketangannya setelah 1 bulan pada tanggal 24 Desember 1144. Zengi tidak menyerang sisa teritori Edessa, atau kerajaan Antiokhia, seperti yang ditakuti. Ketika ia dibunuh oleh seorang budak pada tahun 1146, maka digantikan di Aleppo oleh anaknya, Nuruddin. Joscelin berusaha untuk merebut kembali Edessa dengan terbunuhnya Zengi, tapi Nuruddin dapat mengalahkannya pada November 1146.

Setelah Edessa dikuasai Zengi, perang Salib Kedua diumumkan oleh Paus Eugenius III, dan merupakan Perang Salib pertama yang dipimpin oleh raja-raja Eropa, seperti Louis VII dari Perancis dan Conrad III dari Jerman, dengan bantuan dari bangsawan-bangsawan Eropa penting lainnya. Pasukan-pasukan kedua raja tersebut bergerak menyeberangi Eropa secara terpisah dan sedikit terhalang oleh kaisar Bizantium, Manuel I Comnenus; setelah melewati teritori Bizantium ke dalam Anatolia, pasukan-pasukan kedua raja tersebut dapat ditaklukan oleh bangsa Seljuk.

Setelah kekalahan ini, tentara Salib meminta tambahan pasukan kepada Paus. Dengan dipimpin langsung oleh Raja Louis VII dari Prancis, Kaisar Kouurad dari Jerman dan Putra Roger dari Silsilia mereka melakukan penyerbuan kembali tepatnya pada tahun 1147 – 1179 M. Serangan ini disambut hangat oleh Nuruddin Zanki (Putra Imaduddin Zanki) yang kehebatannya sama seperti ayahnya sehingga tentara Salib II tidak berkutik dan dapat dikalahkan.

Melihat ketangguhan kepemimpinan Nuruddin Zanki di Pantai Laut Timur Tengah, tentara Salib merubah arah penyerbuan dan menjadikan Mesir sebagai daerah target operasi. Penyerangan mereka disambut oleh Salahuddin al-Ayyubi di pertempuran Hattin yang dimenangkan oleh Salahuddin. Lalu Tentara Islam kemudian menyerang dan berhasil merebut kembali Baitul Makdis yang tadinya sudah dikuasai oleh Kristen setelah mereka menyerah. Sikap yang berbeda ia tunjukkan ketika berhasil menaklukan Yerussalem dengan tidak adanya pembantaian umat Kristen, tentara salib boleh pergi, kaum Nasrani dan Yahudi boleh tetap tinggal dengan membayar tebusan, markas Hospitaller dijadikan perguruan tinggi keagamaan, sebagian besar gereja latin diberikan kepada sekte Kristen lain, dan orang miskin yang tak mampu membayar tebusan ia tebus sebanyak 7000.

Shalahuddin segera memulihkan otoritas Khalifah Abbasiyah di Mesir dan setelah Dinasti Abbasiyah hancur Shalahuddin menjadi penguasa Mesir (570 – 590 H / 1174 – 1193 M) dan berhasil mendirikan Dinasti Ayyubiyah di Mesir tahun 1175 M.

Perang Salib Ketiga (1193 – 1291)

Tentara Salib bertahan dan memperkuat diri di Pelabuhan Shour di sebelah Barat dan mereka mengirim utusan (Pendeta) untuk mengirimkan Tentara Salib tambahan. Maka datanglah pasukan tambahan di bawah pimpinan Frederick Raja Australia dan Jerman dengan membawa 200.000 pasukan. Kemudian ditambah lagi tentara Eropa di bawah pimpinan Richard Hati Singa (the Lion Heart) semakin menyempurnakan kekuatan tentara Salib sehingga mereka dapat merebut kota Okka. Peristiwa ini sangat memilukan hati kaum muslimin. Richard si hati singa adalah monster pembunuh yang telah membantai 30.000 nyawa tawanan Islam.

Sebenarnya Salahuddin al-Ayyubi telah menyadari akan bahayanya membiarkan musuh memperkuat diri di Pelabuhan Shour dan telah meminta bantuan kepada Sultan Ya’tub Raja terbesar Muwahiddin yang menguasai daerah Marokko dan Andalusia Selatan untuk menghalangi datangnya bantuan. Sultan takut malah mereka yang akan menjadi sasaran serangan sehingga tidak mengirim bantuan. Tentara Salib dengan enaknya melewati selat Gibraltar. Namun demikian Shalahuddin berhasil mempertahankan dan merebut kembali Yerussalem dan ini merupakan hasil peperangan terbesar Shalahuddin al-Ayyubi.

Gagal untuk kembali merebut Yerussalem tentara Salib bergerak untuk menguasai Mesir dengan meninggalkan daerah yang telah mereka kuasai, yakni Kaisaria, Yaffa dan Asqalan. Kesempatan ini digunakan oleh Salahuddin dengan menyerang mereka dari belakang, sehingga dapat merebut kota Yaffa. Richard jatuh sakit dan menawarkan damai.

Secara diam-diam Salahuddin al-Ayyubi menyamar menjadi dokter dan datang ke kemah Richard untuk merawat dan mengobatinya. Dengan kasih sayang dan keluhuran budi ia merawat Richard sehingga sembuh. Setelah itu barulah ia memberitahukan siapa dirinya sebenarnya sehingga membuat Richard terkagum-kagum dan amat berterima kasih kepada Salahuddin. Keduanya pun sepakat berdamai pada tahun 1192 M. setahun kemudian wapatlah sang pahlawan Islam dalam usia 75 tahun pada tahun 58 H / 1193 M.[

Sebenarnya nuansa persaudaraan sudah terbina sehingga adik perempuan Richard dinikahkan dengan al-Malikul Adil untuk melanjutkan dan membina perdamaian, tetapi setelah mendengar berita wafatnya Salahuddin, Paus selalu menghasut raja-raja Eropa untuk melanjutkan perang. Pasukan Salib sudah pecah karena persaingan, tidak satu visi lagi maka pada tahun 1291 Sultan Asyyuraf Khalil dari Mesir berhasil mengusir tentara Salib dan bentengnya yang terakhir.

Perang salib keempat (1922)

Sebagaimana penulis uraikan di atas, berita kematian Salahuddin al-Ayyubi membangkitkan ambisi Paus Cylinsius III untuk mengirim tentara Salib IV. Namun tentara Salib IV ini tidak sedahsyat serbuan tentara Salib sebelumnya, sehingga sampai tentara Salib VIII dapat ditaklukkan oleh para Mujahidin Islam. Tahun 1922 M, resmilah tentara Salib penyerbu terusir dari Timur.

D. Dampak Perang Salib


Perang Salib yang berlangsung selama hampir dua abad (1095 – 1291) membawa dampak yang sangat berarti terutama bagi Eropa yang beradabtasi dengan peradaban Islam yang jauh lebih maju dari berbagai sisi. Perang Salib menghasilkan hubungan antara dua dunia yang sangat berlainan. Masyarakat Eropa yang lamban dan enggan terhadap perdagangan dan pendapatnya yang naïf terhadap dunia usaha. Masyarakat Eropa terkesan ortodok dan tradisional. Di sisi lain terdapat masyarakat Bizantium yang gemerlapan dengan vitalitas perkotaan, kebebasan berekonomi secara luas dengan tidak ada pencelaan dari ideologi tertentu dan dengan perdagangan yang maju.

Prajurit perang Salib datang dari benteng-benteng yang sangat gersang dan mengira bahwa mereka akan berhadapan dengan Bangsa yang biadab dan Barbar yang lebih dari mereka, ternyata terperangah ketika sudah berhadapan langsung dengan dunia Timur yang lebih beradab, maju dengan peredaran uang yang cukup banyak sebagai pondasi perekonomian.

Mereka sangat tertarik dengan peradaban serta budaya Islam yang jauh lebih maju. Bahasa Arab mulai mereka gunakan sebagai bahasa pergaulan sehari-hari. Tidak sedikit pula diantara mereka yag memeluk agama Islam dan kawin dengan penduduk asli. Hal inilah yang terjadi pada Richard the Lion Heart.

Secara sederhana dampak Perang Salib dapat dijelaskan sebagaimana berikut: Pertama : Perang salib yang berlangsung antara Bangsa Timur dengan Barat menjadi penghubung bagi Bangsa Eropa khususnya untuk mengenali dunia Islam secara lebih dekat lagi. Ini memiliki arti yang cukup penting dalam kontak peradaban antara Bangsa Barat dengan peradaban Timur yang lebih maju dan terbuka. Kontak peradaban ini berdampak kepada pertukaran ide dan pemikiran kedua wilayah tersebut. Bangsa Barat melihat kemajuan ilmu pengetahuan dan tata kehidupan di Timur dan hal ini menjadi daya dorong yang cukup kuat bagi Bangsa Barat dalam pertumbuhan intelektual dan tata kehidupan Bangsa Barat di Eropa. Interaksi ini sangat besar andilnya dalam gerakan renaisance di Eropa. Sehingga dapat dikatakan kemajuan Eropa adalah hasil transformasi peradaban dari Timur.

Kedua : Pra Perang Salib masyarakat Eropa belum melakukan perdagangan ke Bangsa Timur, namun setelah Perang Salib interaksi perdagangan pun dilakukan. Sehingga pembauran peradaban pun tidak dapat dihindarkan terlebih lagi setelah Bangsa Barat mengenal tabiat serta kemajuan Bangsa Timur. Perang Salib membawa perubahan yang cukup signifikan terhadap perkembangan ekonomi Bangsa Eropa. Kehidupan lama Bangsa Eropa yang berdasarkan ekonomi semata sudah berkembang dengan berdasarkan mata uang yang cukup kuat. Dengan kata lain Perang Salib mempercepat proses transformasi perekonomian Eropa.

Ketiga : Perang Salib sebagai sarana mengalirnya ilmu pengetahuan dari Timur ke Barat. Pasca penyerbuan yang berlangsung lebih dari 2 abad, para tentara Barat mulai menyesuaikan diri denga kehidupan Bangsa Timur. Mereka melihat ketinggian peradaban dan budaya Islam dalam berbagai aspek kehidupan, yakni, makanan, pakaian, alat-alat rumah tangga, musik, alat-alat perang, obat-obatan, ilmu pengetahuan, perekonomian, irigasi, tanam-tanaman, sastra, ilmu militer, pertambangan, pemerintahan, pelayaran (navigasi) dan lain-lain. Tentara Salib (crusaders) membawa berbagai keilmuan ke negara mereka dengan kata lain terjadi transformasi budaya (culture) dan peradaban (civilazation) dari Timur ke Barat.

Keempat : Bangsa Barat melakukan penyelidikan terhadap seni dan budaya (art and culture) serta pengetahuan (knowledge) dan berbagai penemuan ilmiyah yang ada di Timur. Hal ini meliputi sistem pertanian, sistem industri Timur yang sudah berkembang dan maju serta alat-alat teknologi yang dihasilkan Bangsa Timur seperti kompas kelautan, kincir angin dan lain-lain. Setelah kembali ke negerinya Bangsa Eropa menyadari betapa pentingnya memasarkan produk-produk Timur yang lebih maju, mereka mendirikan sistem-sistem pemasaran produk Timur. Maka semakin pesatlah perkembangan perdagangan antara Timur dengan Barat.

Kelima : Perang Salib yang meluluh-lantakkan infra dan suprastruktur terutama di negara-negara Timur berakibat tertanamnya rasa kebencian antara Timur dan Barat. Di benak Kristen Eropa diyakini sangat membenci warga Negara Timur baik yang beragama Kristen, Yahudi terutama terhadap muslim. Tentunya hal ini jika tidak disikapi dengan bijaksana akan menjadi bom waktu yang siap meledak kapan saja.

E. Penutup


Tragedi Perang Salib yang berlangsung selama hampir 2 abad mempengaruhi banyak hal, baik itu persepsi masyarakat Islam terhadap dunia Barat (Kristiani) dan cara pandang Kristen terhadap agama Islam. Saling menyerang dan membunuh yang terjadi pada Perang Salib tersebut secara kodrati memang hal yang wajar terjadi sesuai dengan kehendak zaman. Namun yang perlu diantisipasi oleh siapapun adalah menjadikan simbol-simbol sebagai pelegitimasi dan mengakumulasi kekuatan ummat untuk kepentingan-kepentingan tertentu yang pada akhirnya dapat merugikan bagi kehidupan ummat manusia itu sendiri. Hal ini terjadi sebagaimana peristiwa Perang Salib yang pada awalnya bukan hanya diawali oleh faktor agama tetapi sudah berbagai kepentingan yang bercampur aduk.

Perang Salib sekalipun dimenangkan oleh pihak Islam, tetapi jika dilihat dari perspektif peradaban (civilization) Islam sangat dirugikan dan sebaliknya Barat sekalipun kalah tetapi banyak belajar dan berhasil membangun peradaban yang lebih maju setelah melihat dasar-dasar sainsnya dari peradaban Islam. Dengan kata lain Barat berhutang jasa kepada Islam, sebab tanpa transformasi peradaban melalui tragedi Perang Salib ini, Barat tidak bisa berdiri tegak seperti sekarang ini.

Ummat Islam haruslah mencari dan dapat menemukan kembali mutiara yang hilang di masa lalu sehingga di masa mendatang Islam kembali mampu memimpin dunia dengan kejayaan peradabannya sebagaimana yang pernah dicapai pada masa dinasti-dinasti yang lalu.


Demikianlah Artikel Makalah Sejarah Perang Salib

Sekianlah artikel Makalah Sejarah Perang Salib kali ini, mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. baiklah, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.

Anda sekarang membaca artikel Makalah Sejarah Perang Salib dengan alamat link https://www.cyberlaw.my.id/2013/07/makalah-sejarah-perang-salib.html